Vitamin Sea

Tanpa sadar, tempat wisata yang paling sering aku kunjungi selama ini adalah pantai. Bukan aku nggak suka pegunungan, tetapi rasanya aku lebih menikmati sensasi badan lengket di pantai akibat panas dan angin yang mengandung garam daripada kedinginan di gunung. Mungkin karena aku nggak terlalu tahan dingin, sih. Bisa jadi juga karena aku terbiasa hidup di daerah pantai yang panas.

Waktu SMA, aku berteman sama Anggi (dan juga sama sekelompok manusia asyique yang menyebut diri mereka Al 12) yang rumahnya di dekat pantai. Jaraknya cuma sekitar lima puluh meter dari pantai! Jadi kalo main ke rumah Anggi, kita tinggal ngesot ke pantai yang seolah jadi halaman belakang rumahnya, hihihi. Gratis pula, kan, siapa yang nggak suka? Sampai sekarang, rumah Anggi selalu jadi tempat ngumpul favorit Al 12 waktu pengen main ke pantai. Aku, sih, jarang ikutan kumpul karena kuliah di Jogja ☹ Yang paling bikin iri, pernah suatu kali beberapa manusia Al 12 main ke rumah Anggi. Terus mereka ditawarin nyebrang ke pulau kecil tidak berpenghuni yang memang nggak jauh dari ‘halaman belakang’ itu. Jadilah mereka main-main di pulau sampai sore sementara aku cuma bisa ngiler diceritain sama Dian. Ih kzl.

Sebenarnya, meskipun iri setengah mampus sama beberapa manusia Al 12 yang bisa bolak-balik menikmati pulau di ‘halaman belakang’ rumah Anggi, aku juga tetep bisa menikmati pantai dengan angin dan harum khasnya. Kuliah di Jogja bener-bener jadi berkah untuk aku yang penyuka pantai. Gimana nggak? Sepanjang pesisir selatan DIY, ada banyaaaaaaaak banget pantai yang bisa dijelajahi. Mulai dari pantai-pantai landai yang suka kebanjiran saat laut pasang sehingga harus dipasangi pemecah ombak di Kulon Progo, pantai pasir hitam akibat aliran lahar Merapi di Bantul, sampai pantai-pantai karang yang nyelip-nyelip di teluk mini di Gunung Kidul. Saking banyaknya, selama hampir lima tahun aku tinggal di Jogja dan bolak-balik jadi bolang di pesisir selatan, tetep aja aku belum pernah mengunjungi semua pantai di sana!

100_8164-01
Pantai Wediombo, Gunung Kidul
Jpeg
Pemecah ombak di Pantai Glagah yang instagramable.

100_8166-01

P_20160328_101313_1-02
Pantai favoritku di Gunung Kidul. Kalo udah suntuk, pasti main ke sini. Cuma 2 jam perjalanan naik motor dari Kota Jogja, lho.

Nggak hanya di Jogja, hubunganku dengan pantai semakin menguat ketika aku KKN di Sawarna, Lebak. Desa kecil di pantai selatan Banten ini segera jadi favoritku karena punya pantai yang cantik-cantik. Meskipun tinggal selama dua bulan di sana, aku cuma ingat dua dari beberapa pantai di sana: Tanjung Layar dan Legon Pari. Huhuhu, ingatanku memang payah. Dua minggu pertama dan dua minggu terakhir selama aku tinggal di Sawarna, aku selalu jalan pagi dari pondokan ke Tanjung Layar bareng seorang temanku. Kami biasanya pergi dari pondokan sehabis solat subuh dan baru balik setelah nelayan merapat ke pantai alias jam 8. Jarak dari pondokan ke pantai nggak terlalu jauh, sakitar 2 km, dan di sepanjang jalan ada banyak penginapan atau vila sederhana untuk wisawatan. Uniknya, sebelum sampai ke pantai, kita harus ngelewatin jembatan gantung yang lumayan panjang dulu. Sensasi jalan di atas jembatan gantung yang goyang-goyang heboh bikin aku selalu deg-degan, hahaha. Apalagi kalau ada motor yang ikutan lewat, otomatis badan jadi kaku dan tangan langsung nyari pegangan supaya aman.

Jpeg
Bulan Juni-Agustus cuaca di Sawarna selalu cerah. Pantainya jadi super cantik.
IMG_20150904_003240-01
Jembatan gantung yang selalu goyang-heboh. Tolong abaikan pose alay, ehe

Waktu aku KKN, sekitar dua tahun yang lalu, Sawarna belum sepopuler sekarang. Dulu Sawarna cuma ramai pas Lebaran atau long-weekend. Saking ramainya, pantai yang biasanya sepi (bener-bener sepi, nyaris nggak ada orang sama sekali sampai berasa milik pribadi) jadi penuh orang kayak pasar. Kalau kalian udah pernah ke Kuta, pasti tau, kan, gimana ramainya pantai paling populer di kalangan bule itu? Nah, Sawarna di waktu Lebaran dan libur panjang itu ramainya melebihi Kuta waktu sunset. Ramai parah, deh. Sampai-sampai dua jembatan gantung ke arah pantai penuh sesak sama orang, motor, makian, keluhan, dan bau keringat… ewh. Aku pernah terjebak di atas jembatan gantung sewaktu Lebaran. Syedep-syedep ngeri rasanya berdiri di tengah jembatan semi-permanen yang goyang setiap diinjak. Aku nggak bisa bayangin jembatan satu lagi yang terbuat dari kayu dan kawat. Hiiii… Meskipun begitu, aku betah tinggal di Sawarna. Desa kecil itu sampai sekarang masih bikin aku kangen dan berangan-angan balik ke sana sekadar lewat di jembatan goyang-heboh dan jalan-jalan di pantai.

Jpeg
Breathtaking sunset di hari kedua aku di Sawarna. Siapa yang nggak betah disuguhi pemandangan macam ini setiap hari?

Jpeg

Jpeg
Nggak cuma sunset, pemandangan sunrise di Sawarna juga luar biasa.

Aku juga jatuh cinta banget sama pantai-pantai di Kuta Selatan. Eits, jangan salah tangkap dulu. Kuta Selatan di sini maksudnya bukan Pantai Kuta bagian selatan, ya, tapi Kecamatan Kuta Selatan. Kalau liat peta Bali yang bentuknya mirip ayam itu, Kuta Selatan ada di bagian kakinya, kekeke. Aku pernah sekali keliling daerah itu sama temanku naik motor hasil nyewa dari hotel. Itu pertama kalinya kami ke Bali. Cuma berbekal info dari foto di akun instagram jalan-jalan dan hasil googling, kami nekat cari jalan ke Pantai Gunung Payung. Setelah nyasar berkali-kali dan perasaan was-was karena langit mendung, kami sampai di pantai tujuan yang fotonya di instagram bikin ngiler banget. Dan memang bener. Pantai itu bagusnya nggak ketulungan. Udah gitu pantainya sepi bangeeet. Waktu aku ke sana, aku hanya ketemu tiga pengunjung lain yang semuanya bule. Satu mamas bule (yang ‘hot summer’ pol) surfing dengan asyiknya sampai ke tengah laut bikin aku dan temanku cemas, sementara sepasang bule lainnya cuma berenang-renang santai aja di pinggir pantai. Aku sama temanku sih memang nggak berencana berenang, jadi kami cuma duduk-duduk di pasir sambil foto-foto narsis, wkwkwk.

Jpeg
Pas mendung pun gradasi warna lautnya keliatan. Kebayang, kan, kalau cerah gimana?

Jpeg

Jpeg
Harus ngelewatin ratusan anak tangga sebelum sampai ke pantai. Turunnya nggak masalah, tapi waktu naik… uh.
Jpeg
Taraaaa! Kayak pantai pribadi, kan, saking sepinya?

Sayangnya, mendung tambah tebal dan akhirnya gerimis. Untung nggak langsung hujan deras karena di pantai itu nggak ada tempat berteduh sama sekali. Waktu aku ke sana, Pantai Gunung Payung seperti belum dikelola dengan baik. Pantainya memang bersih, tapi nggak ada fasilitasnya sama sekali. Yang bikin aku agak khawatir, ada pembangungan resor pas di atas tebing pantai. Apa jangan-jangan pantai itu nantinya jadi pantai privat milik resor? ☹ Sayang banget, di Bali banyak pantai-pantai bagus yang diprivatisasi sama resor dan hotel dan kalau mau masuk ke sana jadinya harus bayar mahal banget. Padahal kalau penduduk sekitar mau mengelola dan melengkapi dengan fasilitas yang bagus, bisa aja pantai itu jadi lebih ramai, kan? Tapi tentunya kebersihan dan keindahan pantainya harus tetap dijaga, ya.

Bonus foto

P_20160328_103539-01
Favorit.
100_8159-01
Sunrise di Wediombo, Gunung Kidul.

 

Catatan: Semua foto di atas diambil menggunakan kamera Asus Zenfone 5.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s